Bermain di Halaman

Bermain di Halaman

Muter muter liatin youtube, nemu yang begini ini. Padang Bulan, lagu Jawa lama, biasa dinyanyikan waktu terang bulan, waktu dimana anak-anak diberi kelonggaran, tidur agak malam dan bermain diluar.

Dan, meskipun saya gak terlalu lama menikmati keriaan itu (saya ndak setua itu untuk menikmati keriaan tanpa televisi dengan lama, tak berapa lama dalam “masa pertumbuhan” saya, datanglah alat bernama televisi), tapi saya merindukan masa masa itu. Masa dimana bisa bermain diuar bersama teman dan tetangga dekat, masa dimana bisa bersosialisasi secara kaffah. Halah kaffah…

Yang jelas, saya kangen masa itu. Saya kangen masa kecil saya, yang sedikit berbeda dengan masa kecil anak-anak sekarang. Matur nuwun teman, saudara dan tetangga. Juga maturnuwun Sa’Unine, sudah mengingatkan saya akan masa kecil saya yang lumayan indah itu.

Dua Sembilan

Dua Sembilan

Sebenere sih gak ada yang mesti dituliskan ataupun dirasani hari ini. Kecuali saya lagi laper, dan hujan. Jadine saya gak bisa kemana mana buat cari makanan.

Kenapa harus posting? Karena ini hari spesial, tanggal 29 Februari. Jarang-jarang bisa begini. Penting ra penting waton posting. Yo ra?

Ya wes, gitu aja sih. Kalaupun sampeyan sampe sini dan kecewa karena ndak jelas blas postingan ini. Ini ada fotone @lantip

tarak dung cess!

 

Lama Tak Ngeblog

Lama Tak Ngeblog

Dah sejak jaman kapan ya? Sepertine dah lama banget gak update blog ini. Alasannya? Banyak sih. Untuk males ngeblog saya sudah mencadangkan berbagai alasan seperti.

Writer’s Block

Meskipun saya bukan penulis, tapi tampak keren saja pakek alesan ini. Jadi serasa penulis-penulis kondang. Ya minimal bloger beneran kayak KRMT Lantip lah. Hihihi. Alasan yang cukup keren bukan?

Lagi Aktif di Dunia Nyata

Entah akti entah bundet, pokoknya kesane jarang banget online. Jadinya belum sempat saja ngeblog. Ini alasan keren lainnya menurut saya. Karena bisa membuat saya seolah olah orang yang super sibuk. Horang penting pokoknya!

Gak Ada Bahan

Agak menyedihkan, pathetic ataupun sejenisnya. Pokoke gitu. Tapi gini lah kira kira: bingung mau nulis apa dan dibikin bagemana. Agak menggelikan memang. Padahal, kalau kata lakon Saut di film Beth: Tulis, tulis, tulis… Ada daun jatuh, tulis, ada burung, tulis, tulis, tulis, tulis…

Mutung

Bahasa Indonesianya apa ya? Pokoknya patah arang lah. Kenapa bisa patah arang? Ah jangan membuat saya patah arang lagi karena menceritakan kembali kepatah arangan saya. Mbundet? Yo ben!

Faktor X

Nah, faktor X ini, pokoknya tidak bisa dimengerti oleh manusia pada umumnya. Mulai dari karena alien, konspirasi yahudi , illuminati, dan freemason yang berkolaborasi membuat saya males ngeblog

 

Apa lagi ya? Itu aja dulu keknya. sebagian memang bener, sebagian memang alasan kacrut yang saya buat buat. Lah selanjutnya? Gimana ya? Yang jelas…

Pokoke aku kudu berusaha ngeblog! (҂’̀⌣’́)9

 

 

Shit Happens. Oh Well…

Shit Happens. Oh Well…

Jadi gini, sekitar hampir dua bulan yang lalu, saya gak ngekos di tempat lama lagi dan pulang ke jogja jadi bocahe Lantip (tm kecil). Semua perpindahan itu ada beberapa hal yang ketinggalan, oke, satu atau dua hal kek rol kabel, sabun, sampo, kabel data hape dan sebagainya, dan sebagainya.

Salah satu hal yang ketinggalan adalah, kartu gsm tambahan berupa sebiji Halo Data yang belum pernah saya buka. Kartu itu saya pikir sudah terbawa dengan beberapa hal penting lain, tapi tampaknya tidak. Tidak begitu saya perhatikan waktu balik ke Jogja, toh karena itu kartu baru, dan belum pernah dibuka dan semestinya ber pin.

Beberapa hari yang lalu, saya baru sadar, kalau itu kartu ketinggalan dan gak kebawa. Karena, datang billing ke email yang lumayan bikin sesek ati.

Mantep gak tuh sob? Dan ternyata, kartu itu ketinggalan dan entah ditemu sama siapa… Dan dipake aja gitu suka-suka sampek segitu. Hadeh, yeah yeah, sekali lagi, shit happens sooob. Mau gimana lagi.

Lho bukane ada pin nya? Eng… saya baru ingat, scumbag default Telkomsel pin: 1234

Trus selanjutnya piye? Yang jelas sudah saya laporkan hilang dan sudah diblok. Selanjute? Gak tahu, saya sih gak berharap banyak sama pihak Telkomsel untuk memberi solusi yang enak buat saya. Mengingat institusi berjenis corporate itu 99,99% kaku. Sama pihak penemu? Apalagi… Ya wes, cukup berdoa saja bisa dapet duit segitu, dan dapet rejeki lebih baek kedepane. Wish me luck ya pren?

Brace yourself mid, crazy bills are coming…

Satu Tahun

Satu Tahun

Harusnya hari ini satu tahun di ibukota sih. 20 Desember tahun lalu, saya diajak buat bantu-bantu #kepalasuku di sebuah perusahaan hape.

Tapi, ternyata, gak sampe satu tahun saya bekerja di situ. Dan sekarang balik lagi ke nDesa, membantu Den Mas Lantip. Membantu apa? Anggaplah nanam jagung, dianggap begitu saja lah. Saya juga ndak keberatan kok. Hepi malah. Hihihi.

Jadi, di Jakarta, ibu kota endonesa ngapain wae? Ya banyak lah. ya ini ya itu. Ya kerja, ya magabut, ya main. Agak beribet buat diceritakan. Happy? Somewhat. Ketemu banyak orang baik, teman, keluarga, sampek tetangga di sana. Gak happynya cuma berat diongkos. :mrgreen:

Eniwei, minta doanya ya temans, semoga hidup saya tansah barokah :)

Dalil

Dalil

Ini dalilnya apa? Itu Dasarnya apa?

Sering kali saya dengar pertanyaan semacam itu. Meskipun sering kali tidak ditujukan kepada saya, tapi dengan mendengarnya saja saya sudah merasa aneh.

Kenapa semuanya mesti mempertanyakan dasar atau dalil? Bukankah Tuhan sudah mengkaruniakan otak dan hati kepada kita? Kenapa itu tidak pada dipakai?

Takut Bid’ah

Jangan konyol, hal baik tentulah gak pernah divonis dosa. Kalaupun ada yang memfatwa atau memvonis dosa karena melakukan hal baik hanya karena gak ada dasar atau dalilnya, jelaslah dia bukan ulama atau panutan saya.

Tapi itu perintah Tuhan! — Oh. Oke, mungkin Tuhan kita berbeda.

Sebelas

Sebelas

Sebelas bulan, waktu yang bisa dibilang lama, kurang sak encritan sudah bisa disebut satu tahun.

Sebelas bulan, saya melihat kumpeni tempat saya bekerja berkembang dengan lumayan.  Hampir tiap hari ada perekrutan karyawan baru di tempat saya bekerja, hingga mulai banyak orang-orang baru, yang mulai tidak kenal satu sama lain. Kumpeni yang waktu saya datang pertama kali gak begitu jauh beda dengan ruko, sekarang sudah mulai membangun gedung baru yang jauh lebih luas.

Sebelas bulan, saya numpang hidup (lagi) di Jakarta, bertemu banyak teman baru, maupun bertemu teman lama (lagi). Berbagi cerita seneng maupun susah, yang tak jarang membuat tertawa, meringis, dan kadang hampir menangis.

Matur nuwun, Jakarta! Sampeyan memang gila…

Kedutaan, Jalan Kaki, dan Jalan Aspal

Kedutaan, Jalan Kaki, dan Jalan Aspal

Malam Minggu, dua harian yang lalu, cukup cerah, dan daripada menjadi gila pelan pelan, saya putuskan sahaja pergi ke keramaian kota, karena sekalian ada urusan disana.

Urusan pertama saya adalah ke sebuah kantor di bilangan Gambir, sekitaran Monumen Nasional. Urusan yang simpel, dan gak butuh waktu terlalu lama. Hanya sekitar setengah jam saya berurusan di situ. Selesai urusan, saatnya sedikit represing bareng Oom ini di bilangan Sudirman. Mayan jauh, tapi toh ada transportasi ala Jakarta bernama transjakarta atau orang sering bilang busway.

Dari arah tempat urusan saya tadi, saya mesti berjalan kaki kurang lebih satu kilometer ke shelter busway terdekat. Jadilah saya berjalan kaki di Jakarta. Trotoar jelek, galian, parkir sembarangan, sebut sajalah. Sudah #biyasa saya hadapi. Read the rest of this entry

Musim Hujan

Musim Hujan

Jakarta sudah mulai musim hujan lagi, mengingatkan saya akan bermulanya salah satu potongan kehidupan saya. Kehdupan yang yah… Kek rujak lah, macem-macem, gak begitu jelas, tapi dengan adanya bumbu-bumbu yang kebetulan tepat, bisa juga dibilang cukup enak.

Saya datang ke Jakarta raya ini untuk kembali menjadi pekerja saat musim hujan, hampir setahun yang lalu. Orang ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas datangnya saya ke ibukota Indonesia ini (lagi).

Gak terasa, musim hujan sudah datang lagi, dan itu berarti sudah berbulan-bulan hampir setahun, saya kerja di sini. Kerja di sebuah pojok Jakarta. Yang kalau kata salah seorang teman saya, kalau dilepas disini pun dia gak bisa pulang lagi. :mrgreen:

Dan lalu, saya dipanggil pulang oleh orang ini, untuk menjadi tandem sodara beliau lagi di kota kelahiran saya.

Dan lalu, saya pun bersiap, menyiapkan hati hati dan perasaan, untuk pulang. Yang ternyata tidak mudah, mempersiapkan diri untuk meninggalkan beberapa fragmen kehidupan saya yang terlanjur terbentuk di sini.

Ah iya, saya paling gak bisa packing :lol:

Because They’re Successful

Because They’re Successful

Because they’re successful, Ballmer. Success is a menace. It fools smart people into thinking they can’t lose. — Gates to Ballmer

 

Quote di atas adalah penggalan sebuah dialog di film Pirates of Silicon Valley, film yang sudah cukup lama sebenarnya. Tayang perdana tahun 1999, tapi mendadak tenar lagi setelah kepergian Steve Jobs.

Saya gak akan membahas soal Steve Jobs, Bill Gates atau film itu sendiri. Tapi sebuah dialog yang ada di film itu. Dialog yang kemudian saya quote itu bikin saya bergumam, oh, wow! Iya juga ya?

Menjadi semakin manggut-manggut dengan quote dari film itu ketika melihat di sekitar saya beberapa individu atau perusahaan di sekitar saya yang sudah sukses, sangat sukses malah. (meskipun sukses itu relatif, yang jelas mereka jauh lebih kaya dari saya).

Anti kritik

Dan merekapun menjadi apa yang saya sebut dengan anti kritik. Semua masukan-masukan hanyalah dianggap protes ketidakpuasan, karena iri dan sejenisnya dan sejenisnya. Termasuk masukan dari orang dari orang-orang yang sebenarnya justru berniat membangun, menjadikan mereka lebih baik.

Mereka tidak lagi menganggap masukan-masukan yang datang ke mereka sebagai sebuah niat baik. Mereka anggap itu semua demotivational belaka.Mereka pikir, siapa sih orang-orang itu? Pasti cuma sekumpulan tukang protes yang iri dengan kesuksesan. Tukang-tukang protes itu mengkritik, dan tak jarang sangat keras, karena mereka tidak bisa menjadi bagian dari kita. Tidak bisa menjadi seperti kita. — kata mereka yang sukses.

Hamid, sedang koprol menjauh dari orang-orang yang sudah berubah warna.